Stres Berat? Waspadai Gangguan Kejiwaan Skizofrenia

Stres Berat? Waspadai Gangguan Kejiwaan Skizofrenia – Gangguan kejiwaan Skizofrenia termasuk kronis, dan penderitanya pada umumnya mengalami halusinasi, delusi, pikiran kacau, serta perubahan perilaku.

Kondisi Skizofrenia ini umumnya berlangsung lama. Penderitanya biasanya kesulitan membedakan kenyataan dan alam dalam pikirannya sendiri.

Penyakit skizofrenia dapat diidap oleh siapa saja. Usia sekitar 13-40 tahun termasuk usia paling rentan mengalami skizofrenia. Diperkirakan 1 % penduduk dunia mengidap skizofrenia.

Stres Berat Waspadai Gangguan Kejiwaan Skizofrenia

Berdasarkan data KemKes RI yang dipublikasikan tahun 2014, ternyata di Indonesia penderita skizofrenia diperkirakan mencapai 400.000 orang.

Penyebab Gangguan Jiwa Skizofrenia

Penyebab gangguan kejiwaan ini sebenarnya belum diketahui pasti. Namun diduga terdapat beberapa faktor terjadinya skizofrenia, diantaranya :

Baca : Waspadai Gangguan Jiwa Anoreksia Nervosa : Diet Hingga Kurus Krempeng

  1. Hormon serotonin serta dopamine yang tak seimbang
  2. Struktur otak maupun saraf pusat yang tak normal.
  3. Penyakit turunan dari orangtua (penyakit genetik).
  4. Kekurangan oksigen, terpapar racun, kekurangan nutrisi, atau serangan virus ke otak ketika janin dalam kandungan.
  5. Lahir prematur.
  6. Meningkatnya sistem kekebalan pada tubuh dikarenakan penyakit autoimun.
  7. Penyalahgunaan narkotika diantaranya amfetamin, ganja dan kokain.

Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa pecandu narkotika berusia kurang dari 15 tahun mempunyai risiko 4x lipat terkena skizofrenia dibandingkan remaja yang tidak terjerumus penyalahgunaan narkotika.

Sedangkan penggunaan amfetamin dan kokain dapat sebabkan kumatnya gejala penyakit skizofrenia dan memicu munculnya gejala psikosis.

Psikosis dapat dikenali dengan perubahan perilaku secara drastis pada penderita skizofrenia, misalkan tiba-tiba merasa bingung, marah, cemas atau pun curiga kepada orang di sekitarnya.

Baca : 15 Gejala Kesehatan Mental yang Buruk Ini Jadi Pemicu Niat Bunuh Diri

Pada skizofrenia, stres adalah pemicu utama. Diantaranya stres karena kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, kehilangan seseorang yang dicintai, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.

Sementara untuk gejala gangguan kejiwaan ini terbagi menjadi dua hal. Berikut adalah informasi selengkapnya :

1. Gejala negatif
Penderita kehilangan kemampuan tertentu yang umumnya ada dalam diri setiap orang normal. Contoh tidak mampu bersosialisasi sehingga memilih diam di rumah. Kehilangan kemampuan konsentrasi. Perubahan pola tidur. Kehilangan motivasi dan minat dalam kehidupan dan kehilangan respon terhadap keadaan sekitarnya.

Baca : Waspadai Gangguan Jiwa Kleptomania : Gemar Mencuri dan Mengutil

Terkadang gejala negatif ini sulit dikenali karena umumnya berkembang pada masa remaja dan dianggap wajar dalam fase remaja. Disaat penderita mengalami gejala tipe negatif, dia terlihat apatis serta emosi datar. Misalnya, bicara tanpa intonasi, tanpa ekspresi, sikap malas, tak sopan dan tanpa lakukan kontak mata. Penderita gejala negatif skizofrenia tidak peduli penampilan maupun kebersihan diri.

2. Gejala positif
a. Halusinasi
Terjadinya rangsangan pada panca indera oleh sesuatu hal yang sesungguhnya tidak ada. Halusinasi ini terasa nyata bagi si penderita. Contohnya mendengar suara-suara.

b. Delusi
Kepercayaan kuat pada sesuatu tanpa logika. Contohnya si penderita merasa diawasi atau pun merasa akan disakiti oleh seseorang dalam pikirannya. Ada pula yang merasa mendapatkan pesan rahasia dari televisi, mimpi atau lainnya.

c. Pikiran yang kacau dan perubahan pada perilaku
Penderita kesulitan berkonsentrasi, pikirannya melayang sehingga ucapan mereka membingungkan. Perilaku penderita bisa tidak terduga bahkan abnormal. Misalkan penderita menjadi teramat gelisah atau berteriak-teriak serta memaki-maki.

Diagnosis Gangguan Skizofrenia

Seseorang dapat terdiagnosis menderita gangguan kejiwaan ini jika sudah terdiagnosi oleh beberapa tanda berikut :

  1. Pasien mengalami delusi, emosi datar, halusinasi, berperilaku atau berbicara aneh, dan mengalami gejala lainnya sekurang-kurangnya selama 6 bulan
  2. Gejala yang terjadi sudah dipastikan bukan karena oleh gangguan lain, misalkan bipolar, skizoafektif, penyalahgunaan narkoba maupun depresi berat

Terkadang dokter kesulitan mendapatkan keterangan apabila bertanya secara langsung pada si penderita skizofrenia dikarenakan mereka tertutup dan menyangkal.

Oleh karena itu, dokter biasanya bertanya pula pada orang-orang yang dekat dengan si penderita.

Baca : Cara Mengetahui Sifat Kepribadian Seseorang Berdasarkan Fakta Golongan Darah

Selain evaluasi secara psikologis, kadang dokter memberlakukan pemeriksaan lainnya, seperti MRI, CT Scan dan cek darah.

Pemindaian MRI atau CT Scan dalam kasus skizofrenia bermaksud untuk memantau adanya kelainan dalam struktur otak maupun saraf pusat.

Sedangkan cek darah untuk memastikan gejala bukan karena pengaruh narkotika, alkohol, atau pun kondisi lainnya. Mengobati gangguan kejiwaan Skizofrenia, dokter umumnya mengombinasikan terapi kognitif dengan obat antipsikotik.

Dukungan serta perhatian orang terdekat juga penting agar peluang sembuh lebih besar. Meski telah dianggap sembuh, para penderita skizofrenia sebaiknya tetap dimonitor. Biasanya dokter meresepkan obat-obatan yang akan berguna mencegah kambuhnya gejala.

Jadi apakah Anda stres berat? waspadai gangguan kejiwaan skizofrenia mengintai Anda

Stres Berat? Waspadai Gangguan Kejiwaan Skizofrenia | sara | 4.5
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.